
Butiran – butiran salju itu terus
berjatuhan bersamaan dengan angin yang berhembus semakin kencang. Hingga dengan
lancangnya mengoyak tatanan rambut Shin Ji Hyun, gadis keturunan Korea yang
memiliki wajah bak seorang putri dengan kulit putih susu dan kaki jenjang yang
mampu membuat semua pria menatapnya dengan kagum. Udara dingin itu menusuk
kulitnya, namun hal tersebut seolah tak mampu mengalihkan perhatian Ji Hyun
dari kegiatan rutinnya setiap hari. Mengirim pesan untuk kekasihnya nan jauh
disana.
Cc :
-
Subject :
Hari ke-665
Annyeong Oppa…
Apa kabar? Apa semua berjalan dengan baik? Apa kau makan dengan
teratur? Apa tidurmu nyenyak? Bagaimana kuliahmu disana?
Huh, pertanyaan –
pertanyaan itu terus menerus menerorku sepanjang hari. Bagaimana tidak? Kau
bahkan tidak pernah membalas e-mailku lagi sejak 5 bulan lalu. Apa yang terjadi
disana? Sesibuk apa dirimu, hingga untuk membalas pesanku tak kunjung kau lakukan.
Ini sudah hari
ke-665 engkau pergi
meninggalkanku, dan aku tetap menunggumu disini. Aku tahu ini tidak mudah untuk
kita lewati. Tapi aku percaya kita mampu menghadapinya. Aku percaya kamu akan
kembali dengan membawa cinta yang sama untukku seperti saat pertama kali kakimu
berpijak di hadapanku.
Oppa, tolong balas pesanku saat kau memiliki waktu luang..
-Aku yang
sangat merindukan dan mencintaimu-
Pesan itu terkirim, namun setelah
Ji Hyun menunggu hingga berjam – jam lamanya, balasan itu tak kunjung
datang.
“Aigoo..
mungkin Oppa sedang sibuk. Jadi dia tak sempat membalasnya.”
Lagi,
kalimat itu terus terulang dari bibir tipisnya untuk kesekian kalinya untuk
jumlah yang tak lagi mampu dihitung.
Dan
akhirnya, setelah matahari itu kembali ke peraduannya. Ji Hyun beranjak dari
tempat duduknya, dan bergegas pulang menuju apartemennya yang berada di Distrik Cheongdamdong. Begitu sampai di
apartemen, Ji Hyun dikejutkan oleh teriakan teman seapartemennya.
“Sesange
sesange,omona Ji Hyun. Aku mencarimu kemana – mana. Kamu darimana saja? Kau tahu sebentar
lagi akan ada badai salju. Lihat bajumu basah!”Cecar Moon Young sambil menunjuk kearah baju Ji Hyun.
“Hehe,
mianhae. Kamu nggak usah sepanik itu. Aku juga tahu sebentar lagi akan ada
badai, maka dari itu sekarang aku sudah pulang.”
“Memangnya
seharian ini kau dimana? Kau bahkan meninggalkanku di kampus.”Tanya Moon Young
dengan kesal.
“Sepulang
dari kampus tadi aku pergi ke Sungai Han, tempat favoritku.”Jawab Ji Hyun
dengan mengumbar senyumnya.
“Huh,
tempat favoritmu atau tempat favorit laki – laki itu.” Balas Moon Young dengan sengit
“Laki
– laki itu namanya Nata, Young-ie.
Lagipula tempat favoritnya itu tempat favoritku juga.”
“Haah,
terserahlah aku capek ngomong sama kamu. Hati kamu itu udah benar - benar
tertutup. Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, Nata itu nggak akan nepatin
janjinya! Dia nggak mungkin balik lagi ke Korea.”
“Geumanhe
Jang Moon Young!!” teriak Ji Hyun
“Kamu
harus percaya sama aku, dia itu bukan pria baik – baik!”
“Geuman Moon Young, geumanhe!!!!!!”
teriak Ji Hyun dengan histeris sambil
menutup telinganya.
Melihat keadaan Ji Hyun
yang sangat terpukul, Moon Young akhirnya luluh dan mengajak Ji Hyun untuk
beristirahat di kamarnya.
***
Ketika jam menunjukkan pukul 08.00 KST, Ji
Hyun masih asik bersembunyi dibalik selimut beludru bermotif Panda pemberian
Nata, kekasihnya. Ji Hyun mengerjapkan kedua matanya lalu mengedarkan pandangan
ke sekeliling kamar. Setelah mengumpulkan kesadarannya ia mencari ponsel, lalu
mengecek apakah ada balasan dari sang kekasih. Namun nihil, dilayarnya tak ada
tanda-tanda jika sang kekasih itu membalas pesan yang ia kirimkan. Seketika
wajah Ji Hyun berubah muram dan kecewa.
Dengan perasaan kecewa, Ji Hyun turun ke bawah. Saat melewati
dapur ia melihat Moon Young yang tengah
sibuk memasak Samgyetang. Moon Young yang sadar akan kehadiran Ji Hyun pun
menoleh dan mencoba menyapanya.
“ Annyeong Ji Hyun..” sapa
Moon Young.
Ji Hyun yang masih merasa
kesal hanya membalasnya singkat “Ne..”
“Palli mogo” ajak Moon
Young, Ji Hyun pun mengangguk lalu menempati kursi di hadapan Moon Young
Mereka sarapan dalam keheningan, terlebih Ji Hyun yang hanya
memandangi Samgyetang yang ada di hadapannya. Moon Young yang merasa bersalah membuka
suaranya terlebih dahulu.
“Ji Hyun-ie” ucap Moon
Young sambil menatap Ji Hyun
“Ne.....” jawabnya acuh
“Kau masih marah padaku?”
tanya Moon Young.
Ji Hyun menaikkan kedua
bahunya sebagai jawaban
“Mianhae Ji Hyun-ie..” ucap
Moon Young dengan memohon.
“Aniyo, gwenchana”
jawabnya.
Suasana kembali hening sampai sarapan berakhir. Tak ada
yang beranjak pergi hingga Moon Young membuka pembicaraan lagi.
“Ji Hyun eonni, apa kau ada acara hari ini?” tanya Moon Young
“Obseo. Waeyo?” Ji Hyun bertanya
sambil menaikkan kedua alisnya
“Bagaimana jika kita pergi
hari ini?” ajak Moon Young dengan hati-hati agar Ji Hyun tidak menolak.
“Boleh, kemana?” jawabnya acuh
tak acuh. Moon Young menarik nafas lega mendengar jawaban Ji Hyun.
“Kemana pun yang kau mau”
jawab Moon Young dengan antusias.
“Oke,palli palli”
Ji Hyun dan Moon Young pun
beranjak dari tempat itu. Tak butuh waktu lama mereka pun keluar dengan mantel
tebal yang mereka gunakan.
***
Keduanya berjalan menyusuri jalanan yang tertutup oleh
salju, tak jarang mereka melewati orang yang sedang membersihkan salju di
halaman rumahnya agar mudah dilalui.
“Uhh udara pagi ini begitu
dingin” ucap Ji Hyun sambil merapatkan mantelnya.
“Ne...” Jawab Moon Young
sambil menggosokkan kedua telapak tangannya.
Setelah seharian
mengelilingi Kota Seoul, mereka mengunjungi Sungai Han. Mereka mencari tempat
untuk bersantai dan menikmati rintikan salju yang turun. Di sana keduanya sibuk
dengan aktifitas masing – masing, Moon Young yang asik dengan kamera miliknya,
sementara Ji Hyun nampak begitu serius dengan ponselnya. Tangannya terlihat sibuk
menari-nari dilayar ponselnya, Moon Young heran dengan Ji Hyun yang nampak
begitu serius.
“Hei, mari kita berfoto. Apa kau hanya akan berfokus pada
ponselmu sedangkan aku kau acuhkan?” kesal Moon Young.
“Ne, tunggu, aku sedang mengirim pesan kepada Nata.”
balas Ji Hyun yang tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel. Mendengar
jawaban Ji Hyun, Moon Young merasa kasihan kepada sahabatnya.
“Kau ingin secangkir kopi?” Moon Young mengalihkan
pembicaraan sebelum Ji Hyun membahas lebih jauh tentang Nata.
Ji Hyun hanya mengangguk menjawab tawaran Moon Young.
“Baiklah aku akan pergi ke kedai seberang sana. Kau mau
ikut?” ajak Moon Young.
“Kau duluan saja, nanti aku menyusulmu” setelah mendengar
jawaban Ji Hyun, Moon Young segera beranjak pergi ke kedai yang ada di seberang
Sungai Han.
Setelah Moon Young pergi, Ji Hyun pun kembali memusatkan
perhatiannya pada pesan yang tengah ia buat.
Cc : -
Subject : hari ke 666
Annyeong
oppa...
Oppa, tahukah engkau saat ini aku tengah berada di tempat
yang bersejarah bagi kita. Tempat yang menjadi saksi antara cinta kita berdua,
tempat saat kau menyatakan cinta padaku, dan berjanji untuk kembali disini, di
tempat ini. Rasanya berbeda jika tak
ada kau Oppa. Jeongmal bogoshipo..
Aku ingin kau ada disini, menemaniku. Kapan kau
sampai? Aku tahu, pasti kau sedang dalam
perjalanan sehingga kau tak sempat untuk membalas e-mailku. Iya bukan? Kau pasti ingat besok adalah hari yang kau
janjikan. Kuharap kau datang.
-Aku yang
sangat merindukan dan mencintaimu-
Setelah
mengirim pesan kepada Nata, Ji Hyun segera menyusul Moon Young. Saat tengah
berjalan ia merasakan ponselnya bergetar, dengan segera ia mengambil ponsel
tersebut dari dalam saku mantelnya. Mata
Ji Hyun langsung berbinar ketika melihat layar ponselnya terdapat
pemberitahuan e-mail baru. Ji Hyun merasa senang hingga ia melompat-lompat
kegirangan, namun ketika ia membuka pesan tersebut begitu kecewanya ternyata pesan tersebut tidak sesuai
harapannya dan tanpa sadar ternyata ada sebuah mobil yang hendak melintas. Dari
sebrang sana Moon Young yang melihat langsung menjerit histeris.
“Shin Ji Hyun, awaaassss......” teriak Moon Young dari
seberang sana.
Saat
menoleh mobil itu sudah melintas dan Ji Hyun terhempas ke sisi jalan. Kemudian
Moon Young segera menghampiri Ji Hyun.
“Omona Ji Hyun, nan gwenchana?” tanya Moon Young dengan
cemas.
“Nata, Moon Young eonni..” ujar Ji Hyun lirih. Mendengar
jawaban Ji Hyun, Moon Young pun tertegun.
“A.. a..ada apa..dengan Nat..Nata Hyun-ie?” tanya Moon
Young dengan terbata.
“Aku kira dia membalas e-mail ku” jawab Ji Hyun.
“Sampai kapan kau akan terus mengharap balasan dari
Nata?” kesal Moon Young.
“Sampai kapan pun Nata tak akan pernah membalas pesan mu
pabbo.” Lanjut Moon Young.
“Dia pasti akan membalas pesanku.” Tukas Ji Hyun lalu
pergi meninggalkan Moon Young.
***
Ji Hyun
tidak pulang ke apartemen. Padahal ia
pulang lebih dulu daripada Moon Young. Moon Young pun resah menantikan Ji Hyun
yang tak kunjung datang. Hingga pada pagi hari, Ji Hyun belum juga pulang.
“Sebenarnya ia ada
dimana? Hal bodoh apalagi yang ia
lakukan?” pikirnya.
Moon
Young sudah beberapa kali mengirimkan pesan menanyakan keberadaan Ji Hyun. Namun,
tak ada satupun balasan dari Ji Hyun. Kecemasannya membuat dia bergegas pergi dan mencari Ji Hyun. Di
kampusnya ia tak hadir, di Lotte Mart pun tak ada. Setelah ia mengelilingi
Cheongdamdong, ia belum juga menemukan Ji Hyun. Moon Young teringat Sungai Han, tak lama
berpikir ia langsung pergi kesana.
Dan
benar, Ji Hyun terlihat duduk sendiri di bangku yang kemarin mereka kunjungi.
Keadaan Ji Hyun membuat Moon Young sedih. Moon Young menghampirinya dengan langkah
pelan.
“Kemana saja kau semalaman ini? Apa yang tengah kau
lakukan disini.” Tanya Moon Young dengan cemas.
Ji Hyun hanya terdiam dengan pandangan kosong dan wajah
yang terlihat pucat pasi.
“Aigoo lihat kondisimu. Ayo pulang,” ajak Moon Young
pelan.
“Aku mau menunggu Nata, dia akan datang hari ini”
balasnya pelan.
“Dia tidak akan datang menghampirimu sampai kapanpun. Lebih
baik kita pulang sekarang” bujuk Moon Young.
“Dia akan datang Moon Young, dia akan datang. Dia sudah
berjanji padaku” ucap Ji Hyun dengan nada pelan.
“Ji Hyun cukup! Sampai kapan kau seperti ini? Ayolah,
sebaiknya kita pulang” ujar Moon Young sambil menarik kedua tangan Ji Hyun.
“Andwae! Aku tetap disini sampai Nata datang” tegas Ji
Hyun.
“DIA TIDAK AKAN PERNAH DATANG JI HYUN!! NATA ITU TIDAK
ADA!!” teriak Moon Young.
“Nata memang tidak ada disini Moon Young , dia sedang
berada di Indonesia. Bukankah kau juga mengetahuinya?”.
“Ji Hyun aku mohon jangan seperti ini.” Pinta Moon Young.
“Jangan seperti ini bagaimana? Apa yang salah denganku,
aku hanya menunggu kekasihku. Dia sudah berjanji akan datang menemuiku tepat di
hari jadi kami yang ke-5, dia akan datang kemari, di tempat ini Moon Young”
terang Ji Hyun.
“Dia tidak akan pernah datang Ji Hyun!”
“Dia pasti datang, dia hanya sedang mengujiku. Mungkin
saja sebenarnya dia ada di sekitar sini.”
“GEUMANHE JI HYUN!!! GEUMANHE!! NATA TIDAK AKAN PERNAH
DATANG!! DIA SUDAH MENINGGAL!!” ucap Moon Young dengan berapi – api.
“Dia sudah meninggal 5 bulan yang lalu Ji Hyun-ie” lanjut
Moon Young dengan pelan.
“Hahaha... kau itu bicara apa? Nata masih hidup! Dia
hanya tengah kuliah di negara asalnya.”
“Dia meninggal dalam kecelakaan pesawat 5 bulan lalu
Eonni” ungkap Moon Young dengan berkaca – kaca.
“Kau bercanda? Andwaeyo itu tidak mungkin! Andwae! Tidak
mungkin. Nata masih hidup, dia masih hidup, dia masih hidup!” teriak Ji Hyun
dengan lantang.
“Jawab Moon Young! Katakan padaku Nata masih hidup!! Dia
pasti datang, dia masih hidup.” Ucap Ji Hyun sambil menangis histeris.
“Dia sudah meninggal Ji Hyun, kau pun tahu itu.” Sahut
Moon Young.
“Sadar Ji Hyun, kau harus bangkit!! Jangan teruskan
khayalan bodohmu itu, kau harus sembuh Ji Hyun! Jangan seperti ini terus!.” Terang
Moon Young sambil mengguncangkan kedua bahu Ji Hyun.
Ji Hyun hanya terdiam dengan pandangan kosong tanpa
menghiraukan guncangan Moon Young, pikirannya berkelana entah kemana. Hatinya
seolah tengah berperang dengan akal sehatnya.
“Ji Hyun-ie” panggil Moon Young.
Ji Hyun tetap diam dan hanya memandang lurus ke depan, selama
beberapa saat. Hingga akhirnya ia membuka suaranya.
“Jadi Nata sudah meninggal?” lirih Ji Hyun namun masih
bisa terdengar oleh Moon Young.
“Ne, Ji Hyun, Nata sudah meninggal. Apa yang kamu
pikirkan selama ini salah, kamu harus sembuh, kamu harus bisa mengendalikan
pikiranmu, gunakan hatimu Ji Hyun!”
***
Akhirnya,
dengan bujukan – bujukan yang terus dilakukan Moon Young, Ji Hyun pun mau untuk
pulang . Tak banyak yang bisa dilakukan Moon Young, dia hanya terus menuntun Ji
Hyun hingga berbaring di kamarnya. Setelah Moon Young pergi, Ji Hyun langsung terbangun
dan menangis tergugu. Tangannya menarik sebuah bingkai foto dimana didalamnya
terdapat fotonya dan juga Nata yang tengah asik memandangi Sungai Han, tempat
bersejarah bagi mereka.
“Benarkah kau sudah tidak ada Oppa?” ucapnya berbisik
dengan linangan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
***
Satu
minggu sudah berlalu semenjak kejadian itu, namun Ji Hyun seolah bisu. Ia
bahkan tak lagi menghiraukan ucapan – ucapan sahabatnya, Moon Young. Yang ia
lakukan hanya terdiam dan merenung.
***
*Flashback*
Suasana
pagi itu terlalu gelap dan muram bagi seorang gadis yang tengah melihat
sahabatnya melalui sebuah jendela rumah sakit, bagaimana tidak? Ia baru saja
mendengar satu kenyataan pahit yang didapatnya dari seorang dokter yang
menangani sahabatnya.
“Ji Hyun? Psikosis?” tanyanya pada diri sendiri dengan
keraguan.
*Flashback end*
Siang
ini Moon Young berniat mengajak Ji Hyun untuk pergi menemui psikiater
kenalannya. Namun begitu kakinya melangkah ke dalam kamar Ji Hyun yang
didapatnya hanya sebuah kamar kosong tanpa ada tanda – tanda kehidupan didalamnya.
Kecuali sebuah surat yang tergeletak di atas nakas tempat tidur Ji Hyun.
Naneun Shin Ji
Hyun imnida...
Tahun ini, usiaku menginjak angka 21 dalam angka itu
terlalu banyak hal buruk yang bahkan tak pernah aku impikan. Berawal dari
usiaku yang menginjak angka 10, aku sadar jika aku tak memiliki kedua orang
yang bisa aku panggil “Eomma” dan “Appa” layaknya teman – temanku yang lain.
Tapi akhirnya aku mampu melewatinya, karena Tuhan
mempertemukan aku dengan Moon Young dan Nata. Dua orang yang tetap tak bisa aku
panggil “Eomma” dan “Appa”. Tapi mampu mengusir kesedihanku.
Tapi, Tuhan
seolah tidak mau melihatku bahagia, Dia mengambil Nata dariku, orang yang
paling berharga dalam hidupku. Aku hanya seorang gadis yang tak memiliki banyak
keinginan lagi selain menghabiskan sisa hidupku bersama Nata. Lalu apalagi yang
bisa aku lakukan jika harapan dan impianku telah hancur. Aku tak bisa menerima
kenyataan ini, jadi aku tetap menganggap jika Nata masih hidup. Hingga akhirnya
aku sadar jika ternyata itu hanya ilusi, dan aku adalah seorang psikotik.
Aku ingin
sembuh. Maka dari itu, kini aku melangkah pergi meninggalkan Cheongdamdong,
meninggalkanmu, meninggalkan kebodohanku, dan mungkin saja meninggalkan Korea.
Tertanda
-END-
Catatan :
Psikosis merupakan gangguan
mental yang
menyebabkan ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya.
Hasilnya, terdapat realita baru versi orang psikosis tersebut.
Psikotik
adalah sebutan untuk seseorang yang menderita psikosis.
TIM
PENULIS :
1. Indah Maudy
Sulistia
2. Athiyyah
Apriliani
3. Fiska Septi Wardhani
4.
Rima Iryani
XII IPS 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar