Jumat, 16 September 2016

Fall For You




               Butiran – butiran salju itu terus berjatuhan bersamaan dengan angin yang berhembus semakin kencang. Hingga dengan lancangnya mengoyak tatanan rambut Shin Ji Hyun, gadis keturunan Korea yang memiliki wajah bak seorang putri dengan kulit putih susu dan kaki jenjang yang mampu membuat semua pria menatapnya dengan kagum. Udara dingin itu menusuk kulitnya, namun hal tersebut seolah tak mampu mengalihkan perhatian Ji Hyun dari kegiatan rutinnya setiap hari. Mengirim pesan untuk kekasihnya nan jauh disana.

To      :     natapratama@yahoo.com
Cc      :      -
Subject :    Hari ke-665
          Annyeong Oppa…
Apa kabar? Apa semua berjalan dengan baik? Apa kau makan dengan teratur? Apa tidurmu nyenyak? Bagaimana kuliahmu disana?
          Huh, pertanyaan – pertanyaan itu terus menerus menerorku sepanjang hari. Bagaimana tidak? Kau bahkan tidak pernah membalas e-mailku lagi sejak 5 bulan lalu. Apa yang terjadi disana? Sesibuk apa dirimu, hingga untuk membalas pesanku tak kunjung kau lakukan.
          Ini sudah hari ke-665 engkau pergi meninggalkanku, dan aku tetap menunggumu disini. Aku tahu ini tidak mudah untuk kita lewati. Tapi aku percaya kita mampu menghadapinya. Aku percaya kamu akan kembali dengan membawa cinta yang sama untukku seperti saat pertama kali kakimu berpijak di hadapanku.
Oppa, tolong balas pesanku saat kau memiliki waktu luang..

-Aku yang sangat merindukan dan mencintaimu-
Shin Ji Hyun

              Pesan itu terkirim, namun setelah Ji Hyun menunggu hingga berjam – jam lamanya, balasan itu tak kunjung datang.
Aigoo.. mungkin Oppa sedang sibuk. Jadi dia tak sempat membalasnya.”
Lagi, kalimat itu terus terulang dari bibir tipisnya untuk kesekian kalinya untuk jumlah yang tak lagi mampu dihitung.
Dan akhirnya, setelah matahari itu kembali ke peraduannya. Ji Hyun beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas pulang menuju apartemennya yang berada di  Distrik Cheongdamdong. Begitu sampai di apartemen, Ji Hyun dikejutkan oleh teriakan teman seapartemennya.
“Sesange sesange,omona Ji Hyun. Aku mencarimu kemana – mana. Kamu darimana saja? Kau tahu sebentar lagi akan ada badai salju. Lihat bajumu basah!”Cecar Moon Young sambil menunjuk kearah baju Ji Hyun.
“Hehe, mianhae. Kamu nggak usah sepanik itu. Aku juga tahu sebentar lagi akan ada badai, maka dari itu sekarang aku sudah pulang.”
“Memangnya seharian ini kau dimana? Kau bahkan meninggalkanku di kampus.”Tanya Moon Young dengan kesal.
“Sepulang dari kampus tadi aku pergi ke Sungai Han, tempat favoritku.”Jawab Ji Hyun dengan mengumbar senyumnya.
“Huh, tempat favoritmu atau tempat favorit laki – laki itu.”  Balas Moon Young dengan sengit
“Laki – laki itu namanya Nata, Young-ie. Lagipula tempat favoritnya itu tempat favoritku juga.”
“Haah, terserahlah aku capek ngomong sama kamu. Hati kamu itu udah benar - benar tertutup. Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, Nata itu nggak akan nepatin janjinya! Dia nggak mungkin balik lagi ke Korea.”
Geumanhe Jang Moon Young!!” teriak Ji Hyun
“Kamu harus percaya sama aku, dia itu bukan pria baik – baik!”
“Geuman Moon Young, geumanhe!!!!!!” teriak Ji Hyun dengan histeris sambil menutup telinganya.
Melihat keadaan Ji Hyun yang sangat terpukul, Moon Young akhirnya luluh dan mengajak Ji Hyun untuk beristirahat di kamarnya.
***
               Ketika jam menunjukkan pukul 08.00 KST, Ji Hyun masih asik bersembunyi dibalik selimut beludru bermotif Panda pemberian Nata, kekasihnya. Ji Hyun mengerjapkan kedua matanya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Setelah mengumpulkan kesadarannya ia mencari ponsel, lalu mengecek apakah ada balasan dari sang kekasih. Namun nihil, dilayarnya tak ada tanda-tanda jika sang kekasih itu membalas pesan yang ia kirimkan. Seketika wajah Ji Hyun berubah muram dan kecewa.

              Dengan perasaan kecewa, Ji Hyun turun ke bawah. Saat melewati dapur ia melihat  Moon Young yang tengah sibuk memasak Samgyetang. Moon Young yang sadar akan kehadiran Ji Hyun pun menoleh dan mencoba menyapanya.
“ Annyeong Ji Hyun..” sapa Moon Young.
Ji Hyun yang masih merasa kesal hanya membalasnya singkat  “Ne..”
“Palli mogo” ajak Moon Young, Ji Hyun pun mengangguk lalu menempati kursi di hadapan Moon Young
              Mereka sarapan dalam keheningan, terlebih Ji Hyun yang hanya memandangi Samgyetang yang ada di hadapannya. Moon Young yang merasa bersalah membuka suaranya terlebih dahulu.
“Ji Hyun-ie” ucap Moon Young sambil menatap Ji Hyun
“Ne.....” jawabnya acuh
“Kau masih marah padaku?” tanya Moon Young.
Ji Hyun menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban
“Mianhae Ji Hyun-ie..” ucap Moon Young dengan memohon.
“Aniyo, gwenchana” jawabnya.
              Suasana kembali hening sampai sarapan berakhir. Tak ada yang beranjak pergi hingga Moon Young membuka pembicaraan lagi.
“Ji Hyun eonni, apa  kau ada acara hari ini?” tanya Moon Young
“Obseo. Waeyo?” Ji Hyun bertanya sambil menaikkan kedua alisnya
“Bagaimana jika kita pergi hari ini?” ajak Moon Young dengan hati-hati agar Ji Hyun tidak menolak.
“Boleh, kemana?” jawabnya acuh tak acuh. Moon Young menarik nafas lega mendengar jawaban Ji Hyun.
“Kemana pun yang kau mau” jawab Moon Young dengan antusias.
“Oke,palli palli”
Ji Hyun dan Moon Young pun beranjak dari tempat itu. Tak butuh waktu lama mereka pun keluar dengan mantel tebal yang mereka gunakan.
***
              Keduanya berjalan menyusuri jalanan yang tertutup oleh salju, tak jarang mereka melewati orang yang sedang membersihkan salju di halaman rumahnya agar mudah dilalui.
“Uhh udara pagi ini begitu dingin” ucap Ji Hyun sambil merapatkan mantelnya.
“Ne...” Jawab Moon Young sambil menggosokkan kedua telapak tangannya.
            Setelah seharian mengelilingi Kota Seoul, mereka mengunjungi Sungai Han. Mereka mencari tempat untuk bersantai dan menikmati rintikan salju yang turun. Di sana keduanya sibuk dengan aktifitas masing – masing, Moon Young yang asik dengan kamera miliknya, sementara Ji Hyun nampak begitu serius dengan ponselnya. Tangannya terlihat sibuk menari-nari dilayar ponselnya, Moon Young heran dengan Ji Hyun yang nampak begitu serius.
“Hei, mari kita berfoto. Apa kau hanya akan berfokus pada ponselmu sedangkan aku kau acuhkan?” kesal Moon Young.
“Ne, tunggu, aku sedang mengirim pesan kepada Nata.” balas Ji Hyun yang tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel. Mendengar jawaban Ji Hyun, Moon Young merasa kasihan kepada sahabatnya.
“Kau ingin secangkir kopi?” Moon Young mengalihkan pembicaraan sebelum Ji Hyun membahas lebih jauh tentang Nata.
Ji Hyun hanya mengangguk menjawab tawaran Moon Young.
“Baiklah aku akan pergi ke kedai seberang sana. Kau mau ikut?” ajak Moon Young.
“Kau duluan saja, nanti aku menyusulmu” setelah mendengar jawaban Ji Hyun, Moon Young segera beranjak pergi ke kedai yang ada di seberang Sungai Han.
             Setelah Moon Young pergi, Ji Hyun pun kembali memusatkan perhatiannya pada pesan yang tengah ia buat.







Cc : -
Subject : hari ke 666
        Annyeong oppa...
Oppa, tahukah engkau saat ini aku tengah berada di tempat yang bersejarah bagi kita. Tempat yang menjadi saksi antara cinta kita berdua, tempat saat kau menyatakan cinta padaku, dan berjanji untuk kembali disini, di tempat ini.   Rasanya berbeda jika tak ada kau Oppa. Jeongmal  bogoshipo..
Aku ingin kau ada disini, menemaniku. Kapan kau sampai?  Aku tahu, pasti kau sedang dalam perjalanan sehingga kau tak sempat untuk membalas e-mailku. Iya bukan?  Kau pasti ingat besok adalah hari yang kau janjikan. Kuharap kau datang.
-Aku yang sangat merindukan dan mencintaimu-
Shin Ji Hyun


            Setelah mengirim pesan kepada Nata, Ji Hyun segera menyusul Moon Young. Saat tengah berjalan ia merasakan ponselnya bergetar, dengan segera ia mengambil ponsel tersebut dari dalam saku mantelnya. Mata  Ji Hyun langsung berbinar ketika melihat layar ponselnya terdapat pemberitahuan e-mail baru. Ji Hyun merasa senang hingga ia melompat-lompat kegirangan, namun ketika ia membuka pesan tersebut begitu kecewanya  ternyata pesan tersebut tidak sesuai harapannya dan tanpa sadar ternyata ada sebuah mobil yang hendak melintas. Dari sebrang sana Moon Young yang melihat langsung menjerit histeris.

“Shin Ji Hyun, awaaassss......” teriak Moon Young dari seberang sana.

            Saat menoleh mobil itu sudah melintas dan Ji Hyun terhempas ke sisi jalan. Kemudian Moon Young segera menghampiri Ji Hyun.
“Omona Ji Hyun, nan gwenchana?” tanya Moon Young dengan cemas.
“Nata, Moon Young eonni..” ujar Ji Hyun lirih. Mendengar jawaban Ji Hyun, Moon Young pun tertegun.
“A.. a..ada apa..dengan Nat..Nata Hyun-ie?” tanya Moon Young dengan terbata.
“Aku kira dia membalas e-mail ku” jawab Ji Hyun.
“Sampai kapan kau akan terus mengharap balasan dari Nata?” kesal Moon Young.
“Sampai kapan pun Nata tak akan pernah membalas pesan mu pabbo.” Lanjut Moon Young.
“Dia pasti akan membalas pesanku.” Tukas Ji Hyun lalu pergi meninggalkan Moon Young.
***
            Ji Hyun tidak pulang ke apartemen. Padahal  ia pulang lebih dulu daripada Moon Young. Moon Young pun resah menantikan Ji Hyun yang tak kunjung datang. Hingga pada pagi hari, Ji Hyun belum juga pulang.
 “Sebenarnya ia ada dimana?  Hal bodoh apalagi yang ia lakukan?” pikirnya.
           
            Moon Young sudah beberapa kali mengirimkan pesan menanyakan keberadaan Ji Hyun. Namun, tak ada satupun balasan dari Ji Hyun. Kecemasannya membuat  dia bergegas pergi dan mencari Ji Hyun. Di kampusnya ia tak hadir, di Lotte Mart pun tak ada. Setelah ia mengelilingi Cheongdamdong, ia belum juga menemukan Ji Hyun.  Moon Young teringat Sungai Han, tak lama berpikir ia langsung pergi kesana.
            Dan benar, Ji Hyun terlihat duduk sendiri di bangku yang kemarin mereka kunjungi. Keadaan Ji Hyun membuat Moon Young sedih. Moon Young menghampirinya dengan langkah pelan.
“Kemana saja kau semalaman ini? Apa yang tengah kau lakukan disini.” Tanya Moon Young dengan cemas.
Ji Hyun hanya terdiam dengan pandangan kosong dan wajah yang terlihat pucat pasi.
“Aigoo lihat kondisimu. Ayo pulang,” ajak Moon Young pelan.
“Aku mau menunggu Nata, dia akan datang hari ini” balasnya pelan.
“Dia tidak akan datang menghampirimu sampai kapanpun. Lebih baik kita pulang sekarang” bujuk Moon Young.
“Dia akan datang Moon Young, dia akan datang. Dia sudah berjanji padaku” ucap Ji Hyun dengan nada pelan.
“Ji Hyun cukup! Sampai kapan kau seperti ini? Ayolah, sebaiknya kita pulang” ujar Moon Young sambil menarik kedua tangan Ji Hyun.
“Andwae! Aku tetap disini sampai Nata datang” tegas Ji Hyun.
“DIA TIDAK AKAN PERNAH DATANG JI HYUN!! NATA ITU TIDAK ADA!!” teriak Moon Young.
“Nata memang tidak ada disini Moon Young , dia sedang berada di Indonesia. Bukankah kau juga mengetahuinya?”.
“Ji Hyun aku mohon jangan seperti ini.” Pinta Moon Young.
“Jangan seperti ini bagaimana? Apa yang salah denganku, aku hanya menunggu kekasihku. Dia sudah berjanji akan datang menemuiku tepat di hari jadi kami yang ke-5, dia akan datang kemari, di tempat ini Moon Young” terang Ji Hyun.
“Dia tidak akan pernah datang Ji Hyun!”
“Dia pasti datang, dia hanya sedang mengujiku. Mungkin saja sebenarnya dia ada di sekitar sini.”
“GEUMANHE JI HYUN!!! GEUMANHE!! NATA TIDAK AKAN PERNAH DATANG!! DIA SUDAH MENINGGAL!!” ucap Moon Young dengan berapi – api.
“Dia sudah meninggal 5 bulan yang lalu Ji Hyun-ie” lanjut Moon Young dengan pelan.
“Hahaha... kau itu bicara apa? Nata masih hidup! Dia hanya tengah kuliah di negara asalnya.”
“Dia meninggal dalam kecelakaan pesawat 5 bulan lalu Eonni” ungkap Moon Young dengan berkaca – kaca.
“Kau bercanda? Andwaeyo itu tidak mungkin! Andwae! Tidak mungkin. Nata masih hidup, dia masih hidup, dia masih hidup!” teriak Ji Hyun dengan lantang.
“Jawab Moon Young! Katakan padaku Nata masih hidup!! Dia pasti datang, dia masih hidup.” Ucap Ji Hyun sambil menangis histeris.
“Dia sudah meninggal Ji Hyun, kau pun tahu itu.” Sahut Moon Young.
“Sadar Ji Hyun, kau harus bangkit!! Jangan teruskan khayalan bodohmu itu, kau harus sembuh Ji Hyun! Jangan seperti ini terus!.” Terang Moon Young sambil mengguncangkan kedua bahu Ji Hyun.
Ji Hyun hanya terdiam dengan pandangan kosong tanpa menghiraukan guncangan Moon Young, pikirannya berkelana entah kemana. Hatinya seolah tengah berperang dengan akal sehatnya.
“Ji Hyun-ie” panggil Moon Young.
Ji Hyun tetap diam dan hanya memandang lurus ke depan, selama beberapa saat. Hingga akhirnya ia membuka suaranya.
“Jadi Nata sudah meninggal?” lirih Ji Hyun namun masih bisa terdengar oleh Moon Young.
“Ne, Ji Hyun, Nata sudah meninggal. Apa yang kamu pikirkan selama ini salah, kamu harus sembuh, kamu harus bisa mengendalikan pikiranmu, gunakan hatimu Ji Hyun!”
***
           Akhirnya, dengan bujukan – bujukan yang terus dilakukan Moon Young, Ji Hyun pun mau untuk pulang . Tak banyak yang bisa dilakukan Moon Young, dia hanya terus menuntun Ji Hyun hingga berbaring di kamarnya. Setelah Moon Young pergi, Ji Hyun langsung terbangun dan menangis tergugu. Tangannya menarik sebuah bingkai foto dimana didalamnya terdapat fotonya dan juga Nata yang tengah asik memandangi Sungai Han, tempat bersejarah bagi mereka.
“Benarkah kau sudah tidak ada Oppa?” ucapnya berbisik dengan linangan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
***
            Satu minggu sudah berlalu semenjak kejadian itu, namun Ji Hyun seolah bisu. Ia bahkan tak lagi menghiraukan ucapan – ucapan sahabatnya, Moon Young. Yang ia lakukan hanya terdiam dan merenung.
***
*Flashback*
            Suasana pagi itu terlalu gelap dan muram bagi seorang gadis yang tengah melihat sahabatnya melalui sebuah jendela rumah sakit, bagaimana tidak? Ia baru saja mendengar satu kenyataan pahit yang didapatnya dari seorang dokter yang menangani sahabatnya.
“Ji Hyun? Psikosis?” tanyanya pada diri sendiri dengan keraguan.
*Flashback end*

            Siang ini Moon Young berniat mengajak Ji Hyun untuk pergi menemui psikiater kenalannya. Namun begitu kakinya melangkah ke dalam kamar Ji Hyun yang didapatnya hanya sebuah kamar kosong tanpa ada tanda – tanda kehidupan didalamnya. Kecuali sebuah surat yang tergeletak di atas nakas tempat tidur Ji Hyun.

            Naneun Shin Ji Hyun imnida...
Tahun ini, usiaku menginjak angka 21 dalam angka itu terlalu banyak hal buruk yang bahkan tak pernah aku impikan. Berawal dari usiaku yang menginjak angka 10, aku sadar jika aku tak memiliki kedua orang yang bisa aku panggil “Eomma” dan “Appa” layaknya teman – temanku yang lain.
Tapi akhirnya aku mampu melewatinya, karena Tuhan mempertemukan aku dengan Moon Young dan Nata. Dua orang yang tetap tak bisa aku panggil “Eomma” dan “Appa”. Tapi mampu mengusir kesedihanku.
        Tapi, Tuhan seolah tidak mau melihatku bahagia, Dia mengambil Nata dariku, orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku hanya seorang gadis yang tak memiliki banyak keinginan lagi selain menghabiskan sisa hidupku bersama Nata. Lalu apalagi yang bisa aku lakukan jika harapan dan impianku telah hancur. Aku tak bisa menerima kenyataan ini, jadi aku tetap menganggap jika Nata masih hidup. Hingga akhirnya aku sadar jika ternyata itu hanya ilusi, dan aku adalah seorang psikotik.
       Aku ingin sembuh. Maka dari itu, kini aku melangkah pergi meninggalkan Cheongdamdong, meninggalkanmu, meninggalkan kebodohanku, dan mungkin saja meninggalkan Korea.

Tertanda
Shin Ji Hyun

-END-
Catatan :
Psikosis merupakan gangguan mental yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya. Hasilnya, terdapat realita baru versi orang psikosis tersebut.
Psikotik adalah sebutan untuk seseorang yang menderita psikosis.



TIM PENULIS :
1.    Indah Maudy Sulistia
2.    Athiyyah Apriliani
3.    Fiska Septi Wardhani
4.    Rima Iryani
XII IPS 5