Jumat, 16 September 2016

Fall For You




               Butiran – butiran salju itu terus berjatuhan bersamaan dengan angin yang berhembus semakin kencang. Hingga dengan lancangnya mengoyak tatanan rambut Shin Ji Hyun, gadis keturunan Korea yang memiliki wajah bak seorang putri dengan kulit putih susu dan kaki jenjang yang mampu membuat semua pria menatapnya dengan kagum. Udara dingin itu menusuk kulitnya, namun hal tersebut seolah tak mampu mengalihkan perhatian Ji Hyun dari kegiatan rutinnya setiap hari. Mengirim pesan untuk kekasihnya nan jauh disana.

To      :     natapratama@yahoo.com
Cc      :      -
Subject :    Hari ke-665
          Annyeong Oppa…
Apa kabar? Apa semua berjalan dengan baik? Apa kau makan dengan teratur? Apa tidurmu nyenyak? Bagaimana kuliahmu disana?
          Huh, pertanyaan – pertanyaan itu terus menerus menerorku sepanjang hari. Bagaimana tidak? Kau bahkan tidak pernah membalas e-mailku lagi sejak 5 bulan lalu. Apa yang terjadi disana? Sesibuk apa dirimu, hingga untuk membalas pesanku tak kunjung kau lakukan.
          Ini sudah hari ke-665 engkau pergi meninggalkanku, dan aku tetap menunggumu disini. Aku tahu ini tidak mudah untuk kita lewati. Tapi aku percaya kita mampu menghadapinya. Aku percaya kamu akan kembali dengan membawa cinta yang sama untukku seperti saat pertama kali kakimu berpijak di hadapanku.
Oppa, tolong balas pesanku saat kau memiliki waktu luang..

-Aku yang sangat merindukan dan mencintaimu-
Shin Ji Hyun

              Pesan itu terkirim, namun setelah Ji Hyun menunggu hingga berjam – jam lamanya, balasan itu tak kunjung datang.
Aigoo.. mungkin Oppa sedang sibuk. Jadi dia tak sempat membalasnya.”
Lagi, kalimat itu terus terulang dari bibir tipisnya untuk kesekian kalinya untuk jumlah yang tak lagi mampu dihitung.
Dan akhirnya, setelah matahari itu kembali ke peraduannya. Ji Hyun beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas pulang menuju apartemennya yang berada di  Distrik Cheongdamdong. Begitu sampai di apartemen, Ji Hyun dikejutkan oleh teriakan teman seapartemennya.
“Sesange sesange,omona Ji Hyun. Aku mencarimu kemana – mana. Kamu darimana saja? Kau tahu sebentar lagi akan ada badai salju. Lihat bajumu basah!”Cecar Moon Young sambil menunjuk kearah baju Ji Hyun.
“Hehe, mianhae. Kamu nggak usah sepanik itu. Aku juga tahu sebentar lagi akan ada badai, maka dari itu sekarang aku sudah pulang.”
“Memangnya seharian ini kau dimana? Kau bahkan meninggalkanku di kampus.”Tanya Moon Young dengan kesal.
“Sepulang dari kampus tadi aku pergi ke Sungai Han, tempat favoritku.”Jawab Ji Hyun dengan mengumbar senyumnya.
“Huh, tempat favoritmu atau tempat favorit laki – laki itu.”  Balas Moon Young dengan sengit
“Laki – laki itu namanya Nata, Young-ie. Lagipula tempat favoritnya itu tempat favoritku juga.”
“Haah, terserahlah aku capek ngomong sama kamu. Hati kamu itu udah benar - benar tertutup. Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, Nata itu nggak akan nepatin janjinya! Dia nggak mungkin balik lagi ke Korea.”
Geumanhe Jang Moon Young!!” teriak Ji Hyun
“Kamu harus percaya sama aku, dia itu bukan pria baik – baik!”
“Geuman Moon Young, geumanhe!!!!!!” teriak Ji Hyun dengan histeris sambil menutup telinganya.
Melihat keadaan Ji Hyun yang sangat terpukul, Moon Young akhirnya luluh dan mengajak Ji Hyun untuk beristirahat di kamarnya.
***
               Ketika jam menunjukkan pukul 08.00 KST, Ji Hyun masih asik bersembunyi dibalik selimut beludru bermotif Panda pemberian Nata, kekasihnya. Ji Hyun mengerjapkan kedua matanya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Setelah mengumpulkan kesadarannya ia mencari ponsel, lalu mengecek apakah ada balasan dari sang kekasih. Namun nihil, dilayarnya tak ada tanda-tanda jika sang kekasih itu membalas pesan yang ia kirimkan. Seketika wajah Ji Hyun berubah muram dan kecewa.

              Dengan perasaan kecewa, Ji Hyun turun ke bawah. Saat melewati dapur ia melihat  Moon Young yang tengah sibuk memasak Samgyetang. Moon Young yang sadar akan kehadiran Ji Hyun pun menoleh dan mencoba menyapanya.
“ Annyeong Ji Hyun..” sapa Moon Young.
Ji Hyun yang masih merasa kesal hanya membalasnya singkat  “Ne..”
“Palli mogo” ajak Moon Young, Ji Hyun pun mengangguk lalu menempati kursi di hadapan Moon Young
              Mereka sarapan dalam keheningan, terlebih Ji Hyun yang hanya memandangi Samgyetang yang ada di hadapannya. Moon Young yang merasa bersalah membuka suaranya terlebih dahulu.
“Ji Hyun-ie” ucap Moon Young sambil menatap Ji Hyun
“Ne.....” jawabnya acuh
“Kau masih marah padaku?” tanya Moon Young.
Ji Hyun menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban
“Mianhae Ji Hyun-ie..” ucap Moon Young dengan memohon.
“Aniyo, gwenchana” jawabnya.
              Suasana kembali hening sampai sarapan berakhir. Tak ada yang beranjak pergi hingga Moon Young membuka pembicaraan lagi.
“Ji Hyun eonni, apa  kau ada acara hari ini?” tanya Moon Young
“Obseo. Waeyo?” Ji Hyun bertanya sambil menaikkan kedua alisnya
“Bagaimana jika kita pergi hari ini?” ajak Moon Young dengan hati-hati agar Ji Hyun tidak menolak.
“Boleh, kemana?” jawabnya acuh tak acuh. Moon Young menarik nafas lega mendengar jawaban Ji Hyun.
“Kemana pun yang kau mau” jawab Moon Young dengan antusias.
“Oke,palli palli”
Ji Hyun dan Moon Young pun beranjak dari tempat itu. Tak butuh waktu lama mereka pun keluar dengan mantel tebal yang mereka gunakan.
***
              Keduanya berjalan menyusuri jalanan yang tertutup oleh salju, tak jarang mereka melewati orang yang sedang membersihkan salju di halaman rumahnya agar mudah dilalui.
“Uhh udara pagi ini begitu dingin” ucap Ji Hyun sambil merapatkan mantelnya.
“Ne...” Jawab Moon Young sambil menggosokkan kedua telapak tangannya.
            Setelah seharian mengelilingi Kota Seoul, mereka mengunjungi Sungai Han. Mereka mencari tempat untuk bersantai dan menikmati rintikan salju yang turun. Di sana keduanya sibuk dengan aktifitas masing – masing, Moon Young yang asik dengan kamera miliknya, sementara Ji Hyun nampak begitu serius dengan ponselnya. Tangannya terlihat sibuk menari-nari dilayar ponselnya, Moon Young heran dengan Ji Hyun yang nampak begitu serius.
“Hei, mari kita berfoto. Apa kau hanya akan berfokus pada ponselmu sedangkan aku kau acuhkan?” kesal Moon Young.
“Ne, tunggu, aku sedang mengirim pesan kepada Nata.” balas Ji Hyun yang tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel. Mendengar jawaban Ji Hyun, Moon Young merasa kasihan kepada sahabatnya.
“Kau ingin secangkir kopi?” Moon Young mengalihkan pembicaraan sebelum Ji Hyun membahas lebih jauh tentang Nata.
Ji Hyun hanya mengangguk menjawab tawaran Moon Young.
“Baiklah aku akan pergi ke kedai seberang sana. Kau mau ikut?” ajak Moon Young.
“Kau duluan saja, nanti aku menyusulmu” setelah mendengar jawaban Ji Hyun, Moon Young segera beranjak pergi ke kedai yang ada di seberang Sungai Han.
             Setelah Moon Young pergi, Ji Hyun pun kembali memusatkan perhatiannya pada pesan yang tengah ia buat.







Cc : -
Subject : hari ke 666
        Annyeong oppa...
Oppa, tahukah engkau saat ini aku tengah berada di tempat yang bersejarah bagi kita. Tempat yang menjadi saksi antara cinta kita berdua, tempat saat kau menyatakan cinta padaku, dan berjanji untuk kembali disini, di tempat ini.   Rasanya berbeda jika tak ada kau Oppa. Jeongmal  bogoshipo..
Aku ingin kau ada disini, menemaniku. Kapan kau sampai?  Aku tahu, pasti kau sedang dalam perjalanan sehingga kau tak sempat untuk membalas e-mailku. Iya bukan?  Kau pasti ingat besok adalah hari yang kau janjikan. Kuharap kau datang.
-Aku yang sangat merindukan dan mencintaimu-
Shin Ji Hyun


            Setelah mengirim pesan kepada Nata, Ji Hyun segera menyusul Moon Young. Saat tengah berjalan ia merasakan ponselnya bergetar, dengan segera ia mengambil ponsel tersebut dari dalam saku mantelnya. Mata  Ji Hyun langsung berbinar ketika melihat layar ponselnya terdapat pemberitahuan e-mail baru. Ji Hyun merasa senang hingga ia melompat-lompat kegirangan, namun ketika ia membuka pesan tersebut begitu kecewanya  ternyata pesan tersebut tidak sesuai harapannya dan tanpa sadar ternyata ada sebuah mobil yang hendak melintas. Dari sebrang sana Moon Young yang melihat langsung menjerit histeris.

“Shin Ji Hyun, awaaassss......” teriak Moon Young dari seberang sana.

            Saat menoleh mobil itu sudah melintas dan Ji Hyun terhempas ke sisi jalan. Kemudian Moon Young segera menghampiri Ji Hyun.
“Omona Ji Hyun, nan gwenchana?” tanya Moon Young dengan cemas.
“Nata, Moon Young eonni..” ujar Ji Hyun lirih. Mendengar jawaban Ji Hyun, Moon Young pun tertegun.
“A.. a..ada apa..dengan Nat..Nata Hyun-ie?” tanya Moon Young dengan terbata.
“Aku kira dia membalas e-mail ku” jawab Ji Hyun.
“Sampai kapan kau akan terus mengharap balasan dari Nata?” kesal Moon Young.
“Sampai kapan pun Nata tak akan pernah membalas pesan mu pabbo.” Lanjut Moon Young.
“Dia pasti akan membalas pesanku.” Tukas Ji Hyun lalu pergi meninggalkan Moon Young.
***
            Ji Hyun tidak pulang ke apartemen. Padahal  ia pulang lebih dulu daripada Moon Young. Moon Young pun resah menantikan Ji Hyun yang tak kunjung datang. Hingga pada pagi hari, Ji Hyun belum juga pulang.
 “Sebenarnya ia ada dimana?  Hal bodoh apalagi yang ia lakukan?” pikirnya.
           
            Moon Young sudah beberapa kali mengirimkan pesan menanyakan keberadaan Ji Hyun. Namun, tak ada satupun balasan dari Ji Hyun. Kecemasannya membuat  dia bergegas pergi dan mencari Ji Hyun. Di kampusnya ia tak hadir, di Lotte Mart pun tak ada. Setelah ia mengelilingi Cheongdamdong, ia belum juga menemukan Ji Hyun.  Moon Young teringat Sungai Han, tak lama berpikir ia langsung pergi kesana.
            Dan benar, Ji Hyun terlihat duduk sendiri di bangku yang kemarin mereka kunjungi. Keadaan Ji Hyun membuat Moon Young sedih. Moon Young menghampirinya dengan langkah pelan.
“Kemana saja kau semalaman ini? Apa yang tengah kau lakukan disini.” Tanya Moon Young dengan cemas.
Ji Hyun hanya terdiam dengan pandangan kosong dan wajah yang terlihat pucat pasi.
“Aigoo lihat kondisimu. Ayo pulang,” ajak Moon Young pelan.
“Aku mau menunggu Nata, dia akan datang hari ini” balasnya pelan.
“Dia tidak akan datang menghampirimu sampai kapanpun. Lebih baik kita pulang sekarang” bujuk Moon Young.
“Dia akan datang Moon Young, dia akan datang. Dia sudah berjanji padaku” ucap Ji Hyun dengan nada pelan.
“Ji Hyun cukup! Sampai kapan kau seperti ini? Ayolah, sebaiknya kita pulang” ujar Moon Young sambil menarik kedua tangan Ji Hyun.
“Andwae! Aku tetap disini sampai Nata datang” tegas Ji Hyun.
“DIA TIDAK AKAN PERNAH DATANG JI HYUN!! NATA ITU TIDAK ADA!!” teriak Moon Young.
“Nata memang tidak ada disini Moon Young , dia sedang berada di Indonesia. Bukankah kau juga mengetahuinya?”.
“Ji Hyun aku mohon jangan seperti ini.” Pinta Moon Young.
“Jangan seperti ini bagaimana? Apa yang salah denganku, aku hanya menunggu kekasihku. Dia sudah berjanji akan datang menemuiku tepat di hari jadi kami yang ke-5, dia akan datang kemari, di tempat ini Moon Young” terang Ji Hyun.
“Dia tidak akan pernah datang Ji Hyun!”
“Dia pasti datang, dia hanya sedang mengujiku. Mungkin saja sebenarnya dia ada di sekitar sini.”
“GEUMANHE JI HYUN!!! GEUMANHE!! NATA TIDAK AKAN PERNAH DATANG!! DIA SUDAH MENINGGAL!!” ucap Moon Young dengan berapi – api.
“Dia sudah meninggal 5 bulan yang lalu Ji Hyun-ie” lanjut Moon Young dengan pelan.
“Hahaha... kau itu bicara apa? Nata masih hidup! Dia hanya tengah kuliah di negara asalnya.”
“Dia meninggal dalam kecelakaan pesawat 5 bulan lalu Eonni” ungkap Moon Young dengan berkaca – kaca.
“Kau bercanda? Andwaeyo itu tidak mungkin! Andwae! Tidak mungkin. Nata masih hidup, dia masih hidup, dia masih hidup!” teriak Ji Hyun dengan lantang.
“Jawab Moon Young! Katakan padaku Nata masih hidup!! Dia pasti datang, dia masih hidup.” Ucap Ji Hyun sambil menangis histeris.
“Dia sudah meninggal Ji Hyun, kau pun tahu itu.” Sahut Moon Young.
“Sadar Ji Hyun, kau harus bangkit!! Jangan teruskan khayalan bodohmu itu, kau harus sembuh Ji Hyun! Jangan seperti ini terus!.” Terang Moon Young sambil mengguncangkan kedua bahu Ji Hyun.
Ji Hyun hanya terdiam dengan pandangan kosong tanpa menghiraukan guncangan Moon Young, pikirannya berkelana entah kemana. Hatinya seolah tengah berperang dengan akal sehatnya.
“Ji Hyun-ie” panggil Moon Young.
Ji Hyun tetap diam dan hanya memandang lurus ke depan, selama beberapa saat. Hingga akhirnya ia membuka suaranya.
“Jadi Nata sudah meninggal?” lirih Ji Hyun namun masih bisa terdengar oleh Moon Young.
“Ne, Ji Hyun, Nata sudah meninggal. Apa yang kamu pikirkan selama ini salah, kamu harus sembuh, kamu harus bisa mengendalikan pikiranmu, gunakan hatimu Ji Hyun!”
***
           Akhirnya, dengan bujukan – bujukan yang terus dilakukan Moon Young, Ji Hyun pun mau untuk pulang . Tak banyak yang bisa dilakukan Moon Young, dia hanya terus menuntun Ji Hyun hingga berbaring di kamarnya. Setelah Moon Young pergi, Ji Hyun langsung terbangun dan menangis tergugu. Tangannya menarik sebuah bingkai foto dimana didalamnya terdapat fotonya dan juga Nata yang tengah asik memandangi Sungai Han, tempat bersejarah bagi mereka.
“Benarkah kau sudah tidak ada Oppa?” ucapnya berbisik dengan linangan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
***
            Satu minggu sudah berlalu semenjak kejadian itu, namun Ji Hyun seolah bisu. Ia bahkan tak lagi menghiraukan ucapan – ucapan sahabatnya, Moon Young. Yang ia lakukan hanya terdiam dan merenung.
***
*Flashback*
            Suasana pagi itu terlalu gelap dan muram bagi seorang gadis yang tengah melihat sahabatnya melalui sebuah jendela rumah sakit, bagaimana tidak? Ia baru saja mendengar satu kenyataan pahit yang didapatnya dari seorang dokter yang menangani sahabatnya.
“Ji Hyun? Psikosis?” tanyanya pada diri sendiri dengan keraguan.
*Flashback end*

            Siang ini Moon Young berniat mengajak Ji Hyun untuk pergi menemui psikiater kenalannya. Namun begitu kakinya melangkah ke dalam kamar Ji Hyun yang didapatnya hanya sebuah kamar kosong tanpa ada tanda – tanda kehidupan didalamnya. Kecuali sebuah surat yang tergeletak di atas nakas tempat tidur Ji Hyun.

            Naneun Shin Ji Hyun imnida...
Tahun ini, usiaku menginjak angka 21 dalam angka itu terlalu banyak hal buruk yang bahkan tak pernah aku impikan. Berawal dari usiaku yang menginjak angka 10, aku sadar jika aku tak memiliki kedua orang yang bisa aku panggil “Eomma” dan “Appa” layaknya teman – temanku yang lain.
Tapi akhirnya aku mampu melewatinya, karena Tuhan mempertemukan aku dengan Moon Young dan Nata. Dua orang yang tetap tak bisa aku panggil “Eomma” dan “Appa”. Tapi mampu mengusir kesedihanku.
        Tapi, Tuhan seolah tidak mau melihatku bahagia, Dia mengambil Nata dariku, orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku hanya seorang gadis yang tak memiliki banyak keinginan lagi selain menghabiskan sisa hidupku bersama Nata. Lalu apalagi yang bisa aku lakukan jika harapan dan impianku telah hancur. Aku tak bisa menerima kenyataan ini, jadi aku tetap menganggap jika Nata masih hidup. Hingga akhirnya aku sadar jika ternyata itu hanya ilusi, dan aku adalah seorang psikotik.
       Aku ingin sembuh. Maka dari itu, kini aku melangkah pergi meninggalkan Cheongdamdong, meninggalkanmu, meninggalkan kebodohanku, dan mungkin saja meninggalkan Korea.

Tertanda
Shin Ji Hyun

-END-
Catatan :
Psikosis merupakan gangguan mental yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya. Hasilnya, terdapat realita baru versi orang psikosis tersebut.
Psikotik adalah sebutan untuk seseorang yang menderita psikosis.



TIM PENULIS :
1.    Indah Maudy Sulistia
2.    Athiyyah Apriliani
3.    Fiska Septi Wardhani
4.    Rima Iryani
XII IPS 5

Kamis, 19 Maret 2015

Fanfiction Kyuhyun - Penantian Tak Berbuah

Butiran salju terus berjatuhan bersamaan dengan angin yang semakin kencang berhembus, hingga dengan lancangnya mengoyak tatanan rambut Annalise, seorang gadis keturunan Indonesia-Korea yang memiliki wajah bak seorang putri dengan kulit putih susu dan kaki jenjang yang mampu membuat semua pria menatapnya dengan kagum. Udara dingin itu menusuk kulitnya, hingga ia terus mengeratkan hoodie yang ia kenakan. Sudah dua jam ia menunggu, namun yang ia tunggu tak kunjung datang. Bahkan tak menjawabnya saat Annnalise terus mencoba menghubunginya.
“Hah...” dengus Annalise yang hampir putus asa menunggu kekasihnya itu
“Hey maaf membuatmu menunggu lama” Sebuah suara menghentikan lamunannya
“...........” Annalise hanya diam, tak berniat untuk menjawab saat ia tahu jika yang datang adalah Kyuhyun, kekasihnya.
“Apa kau sedang merajuk padaku ?” tanya Kyuhyun yang melihat kekasihnya hanya diam dan tak mau menjawabnya. Bahkan menatapnya saja ia enggan.
“Hey aku minta maaf. Tadi ada hal yang penting, jadi aku terlambat menemuimu.”
“Apa ada yang lebih penting daripada aku?” 
Kyuhyun tersenyum mendengar penuturan kekasihnya. ‘Dia memang sangat manja, dan benar-benar menggemaskan.’ Ucap Kyuhyun dalam hati
“Tentu saja banyak yang lebih penting darimu, nona manis.” Ucap Kyuhyun berniat untuk menggoda kekasihnya.
“Huh.” Annalise membuang mukanya lalu beranjak bangun berniat untuk pergi, tapi saat beberapa langkah sebuah tangan menahannya. Dan menariknya kembali hingga terduduk lagi di kursi panjang bercat putih yang terbuat dari kayu itu.
“Dengarkan dulu, aku belum selesai bicara.” Terang Kyuhyun pada kekasihnya
“Kau tahu? Sejak dulu kau adalah bagian terpenting dalam hidupku.” Ucap Kyuhyun dengan senyuman yang tulus
“Jadi kenapa kau terlambat?” tanya Annalise
“Aku punya kabar gembira untukmu, kau masih ingatkan apa impian terbesarku selama ini?” tanya Kyuhyun dengan nada yang menggebu penuh antusias
“Tentu saja, jika yang kau maksud adalah menjadi artis paling terkenal se-Korea Selatan dan seluruh dunia.”
“Ya, kau benar. Dan kau tahu tidak? Aku berhasil mengikuti audisi untuk menjadi trainee di SW entertainment.” Terang Kyuhyun dengan senyum yang terus mengembang di wajah tampannya
“SW entertainmet, agensi terbesar di Korea Selatan? Kau serius?” tanya Annalise tak percaya
“Tentu saja aku serius, memangnya kau lupa jika setiap bulan aku selalu mengikuti audisi disana.”
            Benar, kekasihnya memang sangat memimpikan untuk menjadi seorang artis terkenal. Ia bahkan masih ingat saat kekasihnya tak pernah lelah untuk terus berlatih agar diterima audisi. Sekalipun ia sudah ditolak puluhan kali. Kemauan dan ambisi yang sangat kuat  pada diri Kyuhyun mengalahkan segalanya.
“Ya Tuhan, aku senang mendengarnya. Selamat Kyu.” Jawab Annalise dengan senyum yang mengembang dan kedua matanya yang menatap lekat kekasihnya, tatapan matanya bertemu dengan sorot mata kekasihnya yang kini justru berubah menjadi sendu.
“Kau kenapa Kyu? Bukankah kau harus bahagia, apa kau sakit?” tanya Annalise khawatir saat wajah kekasihnya berubah menjadi sedih.
“Tidak. Hanya saja sulit untuk menjelaskannya. Lusa aku sudah mulai menjalani masa trainee di asrama, dan selama itu aku tidak bisa melakukan hal semauku. Aku harus berlatih untuk debutku nanti. Dan sebelum waktu itu tiba mungkin aku tak akan bisa menemuimu dulu. Aku, aku tidak tahu harus bagaimana. Apa bisa jika tak bertemu denganmu dalam waktu yang lama?” terang Kyuhyun sambil menggenggam kedua tangan Annalise dengan lembut
            Mendengar penuturan kekasihnya Annalise hanya mampu menghembuskan nafasnya, ia tahu SW entertaiment memang bukan agensi main – main, melainkan agensi terbesar yang memiliki peraturan yang ketat pada anak didiknya (artisnya). Apa ia harus merelakkan kekasihnya? Apa ia sanggup tak bertemu kekasihnya dalam waktu yang mungkin cukup lama? Tapi apa mungkin ia tega menahan kekasihnya menggapai impian terbesarnya yang akan sedikit lagi ia gapai hanya karena keegoisannya? Petanyaan – pertanyaan itu terus berkecamuk dalam dirinya.
“Tentu saja bisa Kyunie, bukankah disana kau akan berlatih banyak hal untuk menjadi seorang artis terkenal seperti apa yang kau impikan selama ini?” jawab Annalise berusaha untuk menutupi kesedihannya
“Tapi bagaimana denganmu?”  tanya Kyuhyun cemas, ia tahu jika kekasihnya itu hanya seorang diri di dunia ini. Karena sejak kecil ia tinggal di panti asuhan, orang tuanya meninggal karena sebuah kecelakaan.
“Aku tak apa, aku janji akan baik – baik saja disini. Kau juga harus berjanji kalau kau akan menjadi artis terkenal. “ ucap Annalise sambil tersenyum
“Akuuu akan menunggumu Kyu.” Lanjut Annalise dengan suara paraunya, ia berusaha mati – matian agar tak menangis dihadapan kekasihnya.
“Terima kasih Annalise, aku janji aku akan berlatih dengan keras. Agar bisa secepatnya debut dan kembali padamu.” Ujar Kyuhyun lantas memeluk kekasihnya erat.
“Aku sulit bernafas Kyu.” Ucap Annalise saat dirasanya pelukan Kyuhyun membuatnya kesulitan bernafas. Kyuhyun terkekeh mendengar ucapan kekasihnya, lalu melepaskan pelukannya.
“Maaf”
“Ya, kau jangan terlalu keras berlatih, tapi kau juga harus memperhatikan kondisi tubuhmu. Jangan sampai kau sakit.” Terang Annalise yang dibalas anggukan oleh kekasihnya itu
“Aku pasti akan merindukanmu Annalise.” Ucap Kyuhyun tulus
“Aku juga Kyu.” Jawab Annalise dengan air mata yang sudah menggenang dipipinya.
Tes. Air mata itupun terjatuh, dengan derasnya. Kyuhyun yang melihatnya hanya diam dan menghapus air mata kekasihnya itu

2 tahun kemudian
            Seorang gadis cantik tengah berjalan menyusuri jalanan kota Seoul dengan perasaan yang tak menentu, ia menjadi seorang pendiam setelah kekasihnya benar – benar pergi mengejar impiannya, namun tak menghubunginya sekalipun. Hingga sebuah layar besar yang ia lihat di sebrang jalan menginterupsinya untuk berhenti.
“Kyu” gumamnya lirih saat matanya menangkap sosok yang sangat ia rindukan pada sebuah layar besar itu. Ya, tak salah lagi itu Kyuhyun kekasihnya.
“Kau berhasil Kyu, kau berhasil mewujudkan impianmu.” Gadis itupun langsung berlalu dan pulang menuju panti asuhan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.

“Annalise. Kau sudah pulang? Belanjaannya kau taruh saja di sana” ucap seorang ibu dengan tangan yang ia arahkan pada sebuah meja.
“Iya, bu.” Annalise menaruh barang belanjaannya dengan perasaan bahagia. Sejak tadi sebuah senyuman  tak pernah lepas dari wajahnya
“Wah, sepertinya ada yang tengah jatuh cinta.”  Sindir ibu panti tersebut
“Ibu ini bicara apa? Ah, apa ibu sudah melihat televisi hari ini?”
“Belum, memangnya kenapa?”
“Ibu tahu tidak, tadi saat di jalan aku melihat Kyuhyun yang tengah bernyanyi dalam sebuah layar di jalan. Suaranya sangat merdu, bahkan jauh lebih bagus dari yang dulu. Aku senang sekali akhirnya dia debut. Dan itu artinya sebentar lagi ia akan menemuiku, Bu.” Tutur Annalise dengan wajah yang berseri – seri. Dan bersenandung dengan riang. Melihat tingkah anak asuhnya, ia hanya mampu menggeleng – gelengkan kepalanya.

1 year later
“Ini sudah satu tahun, tapi kenapa Kyuhyun tak kunjung menemuiku, atau hanya sekedar menghubungiku. Apa ia lupa nomor ponselku? Padahal aku sengaja tak menggantinya agar ia bisa menghubungiku kapanpun ia bisa. Apa dia melupakanku? Tidak, tidak itu tidak mungkin. “ sejak tadi Annalise hanya berdiam diri dikamar sambil menatap layar ponselnya. Akhir – akhir ini ia jadi sering sekali berselancar dalam dunia maya hanya untuk sekedar mencari informasi menganai kekasihnya.
            Setelah debutnya satu tahun yang lalu, nama Cho Kyuhyun memang menjadi salah satu artis yang paling banyak digemari terlebih oleh para gadis remaja. Tak hanya di Korea namun juga di seluruh dunia. Mengingat musik K-Pop saat ini tengah digandrungi oleh banyak masyarakat dunia. Suaranya yang khas dan merdu, tubuhnya yang sangat lihai menari dan wajahnya yang tampan membuat siapa saja dengan mudah tertarik padanya.
“Apa sebaiknya aku menemuinya saja? Tapi bagaimana caranya ya, kemarin saat menonton konsernya saja aku tak bisa menemuinya.”  Ia berjalan kesana kemari hingga kakinya berhenti saat telinganya mendengar sebuah berita yang tengah menyala di luar kamarnya, sontak iapun berlari keluar untuk memastikan jika ia hanya salah pendengaran saja.
“Cho Kyuhyun, seorang artis terkenal yang memiliki suara khas dan wajah yang tampan itu. Kini dikabarkan menjalin hubungan dengan artis cantik bernama Kim So Hee, keduanya mengkonfirmasi hubungan tersebut saat ditemui usai menghadiri sebuah acara penghargaan. Berikut hasil wawancaranya”

Tes...
Airmata itu dengan lancangnya keluar begitu saja, Annalise terus menangis tanpa henti sesaat setelah ia mendengar berita tersebut.
“Ini tidak mungkin, dia bukan Cho Kyuhyunku. Dia orang lain, itu bukan Kyuhyunku. Ya Tuhan, tapi kenapa rasanya sesak sekali.”
“Ka Annalise kenapa?” tanya seoranag anak kecil yang merupakan adiknya di panti tersebut. Mendengar suara itu Annalise langsung menghapus air matanya, dan berusaha menghentikan isakannya.
“Kaka tidak apa -  apa sayang, lihat kakak baik – baik saja.” Annalise menunjukkan senyuman terlebarnya di depan anak kecil yang diketahui bernama Johyun itu.
“Syukurlah, ini ada surat untuk kakak.” Johyun menyodorkan sebuah surat kepada Annalise
“Dari siapa Johyun?”
“Tidak tahu, tadi diantar pak pos. Yasudah aku pergi dulu ya kak” Johyun pun berlari menuju teman – temannya yang berada di luar.
~
            Annalise menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di sebuah gedung pencakar langit yang bernama SW building, tempat dimana kekasihnya bernaung selama ini.
“Aku akan menemuinya, ya aku harus menemuinya.” Ucap Annalise dengan penuh keyakinan
            Saat ia hendak melangkah lagi, tiba – tiba sebuah tangan menghalaunya untuk memasuki gedung tersebut.
“Maaf Anda siapa, dan ada perlu apa Anda masuk ke dalam?” tanya salah seorang bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam itu.
“Saya Annalise, saya ingin menemui Kyuhyun.”  Terangnya pada pria dihadapannya
“Maaf, dia tidak bisa bertemu dengan orang sembarangan.”
“Saya bukan orang sembarangan dan dia bahkan mengenal saya.”
“Benarkah, dimana dia mengenal Anda?”
“Tentu saja dia mengenal saya, karena saya adalah kekasihnya.” Jawab Annalise penuh percaya diri.
“Hahaha Anda terlalu banyak berkhayal nona, saya tahu Anda memang cantik. Tapi bukan berarti Anda bisa mengakuinya sebagai kekasih Anda.” Jawab pria itu dengan nada mengejek.
“Ada apa ini?” tegur seorang pria karena mendengar adanya keributan, terlebih itu membawa nama artisnya, Cho Kyuhyun.
“Lihat wanita ini, dia bilang dia kekasih Kyuhyun dan memaksa ingin menemuinya. Tentu saja aku melarangnya.”
“Nona, siapa namamu?” tanya Lee Kwan Jo, yang ternyata adalah manager dari Kyuhyun.
“Namaku Annalise, apa aku bisa menemui Kyuhyun?” tanya Annalise penuh harap pada pria dihadapannya
“Sepertinya tidak bisa. Karena saat ini dia sedang di luar negeri. Mungkin lain waktu ya.”  Jawabnya berbohong.
“Baiklah tak apa, tapi aku ingin menitip ini. Tolong berikan padanya. Kalau begitu aku permisi.” Annalise membungkukkan badannya dan berlalu pergi meninggalkan gedung tersebut.

            Di lain tempat, terlihat seorang pria yang menghembuskan nafasnya kasar. Sejak tadi ia terlihat sangat gelisah. Hingga sebuah suara dering handphonenya  menghentikan kegiatannya.
“Halo.”
“Kyuhyun, aku memiliki sebuah surat untukmu.”
“Surat apa Hyung (panggilan kakak dalam bahasa korea)?”
“Surat dari fansmu, haha dia lucu sekali. Dia bahkan memaksa untuk bertemu sampai mengaku – ngaku jika kau adalah kekasihnya. Hahaha”
“Siapa namanya hyung?”
“Umm, kalu tidak salah Anna...(menggantungkan kalimatnya)”
“Annalise?”
“Ya tepat sekali”
“Benarkah?”
“Ya”
“Mana suratnya? Kau dimana sekarang?”
“Aku di SW building”
“Diam dan tunggu aku”
PIP
Kyuhyun langsung menghentikan telponnya. Dan berlari keluar apartementnya.

“Mana suratnya hyung?”
“Ini..” Manager Lee menyodorkan surat itu pada Kyuhyun
Kyuhyunpun berlalu meninggalkan managernya. Hingga ia sampai pada sebuah ruangan khususnya. Dan perlahan membuka surat yang sejak tadi ia genggam.

To : Kyunie Oppa (panggilan Annalise pada Kyuhyun)

            Hai Oppa, apa kabar? Lama tak bertemu, apa kau merindukanku? Sepertinya tidak ya. Padahal aku sangat merindukanmu, aku merindukan suaramu, sifat evilmu, tingkah konyolmu untuk menghiburku yang sedang bersedih, aku merindukan saat – saat kebersamaan kita. Kalau boleh aku bertanya, bisakah itu terulang kembali, Oppa?

Aku menulis surat ini dengan susah payah, menakutkan banyak hal. Aku takut suratnya tak mau kau baca, atau tak tersampaikan padamu. Mengingat sekarang sangat sulit untuk bertemu denganmu. Oh iya, selamat Oppa. Sekarang kau sudah berhasil mewujudkan impianmu sebagai seorang penyanyi terkenal. Sekarang, wajahmu ada dimana-mana. Bukankah itu impianmu? Aku sangat senang mengetahuinya, kerja kerasmu terbayar sudah walaupun di sisi lain aku bersedih karena tak bisa seperti dulu lagi denganmu. Kau tahu? Rasanya sesak sekali melihat kau digilai semua wanita, bahkan kau memiliki wanita lain, sialnya dia lebih cantik dari aku. Haha tentu saja ya. Bukankah dia seorang artis juga? 

Dua tahun menunggu, rasanya bukan waktu yang lama. Tak apa jika aku harus menunggu lebih lama dari ini. Kau tahu apa alasannya? Karena aku sangat mencintaimu, tapi aku sadar. Kau adalah seorang bintang besar sekarang, kau berada di tingkat teratas. Bagaimana bisa aku menggapaimu, rasanya bermimpi saja tak diperbolehkan. Jadi mulai sekarang biarlah aku melihatmu dari kejauhan saja, melihatmu bersinar semakin terang hingga menyilaukan semua mata yang memandangnya.
Oppa, aku juga ingin mengejar impianku yang sempat tertunda. Jadi setelah kau membaca surat ini, aku sudah tak berada di tempat itu lagi. Selamat tinggal ya Oppa, terima kasih atas semuanya. Selama ini kau sangat baik menjagaku sejak kecil. Hiduplah dengan baik. ^^

Aku yang mencintaimu         
          -Annalise-

Tes..
Kyuhyun menangis setelah membaca surat dari kekasihnya itu. tangannya mengepal erat dan membuang kertas itu sembarangan.
“Kau salah Annalise, aku tak pernah melupakanmu.“ teriaknya frustasi
“Maaf  Annalise, aku benar- benar menyesal.” Suaranya melemah dan ia menjatuhkan badannya ke lantai.
“Aku mencintaimu, aku masih sangat mencintaimu.”

-END-